PENGUKUHAN GURU BESAR PERTAMA BIDANG ILMU TANAH UNITRI: Prof. Dr. Ir. Widowati, MP

MALANG – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang menghasilkan Profesor pertama sejak berdiri sebagai Perguruan Tinggi pada tahun 2001. Ialah Prof. Dr. Ir Widowati, MP, yang berhasil mendapatkan jabatan Guru Besar atau Profesor bidang Ilmu Tanah terhitung sejak 1 Januari 2021 berdasarkan Penetapan Angka Kredit Jabatan Fungsional Kemdikbud nomor 767/E4/KP/GB/2020 dengan nilai kum 855,40.

Prof. Dr. Ir. Widowati, MP yang lahir di Manokwari 55 tahun silam memiliki seorang suami bernama Kotok Gurito dan 2 orang anak (Stefa Yuwiko dan Rachella Christy) ini, mengabdi sebagai dosen UNITRI (dh. Sekolah Tinggi Pertanian Tribhuwana) sejak tahun 1991. Lulus dari program Doktor Universitas Brawijaya (UB) tahun 2011, Widowati menggeluti bidang biochar yaitu arang organik dari bahan biomassa yang diproduksi dengan metode pirolisis untuk meningkatkan kesuburan tanah. Widowati yang menjabat Wakil Rektor I Bidang Akademik, Sistem Informasi, dan Inovasi UNITRI ini, mendapatkan beberapa hibah penelitian dari Dikti, Indofood Riset Nugraha dan Gudang Garam. Selain itu, beliau adalah penulis di beberapa jurnal internasional terindeks scopus dan jurnal nasional terakreditasi.

Kesibukan Widowati selain mengajar, juga menjadi pemakalah seminar, narasumber, dan penulis buku. Beliau telah menghasilkan 3 paten sejak tahun 2016-2018, beberapa prosiding seminar nasional dan internasional. mantan Dekan FP ini juga menjadi Tim Penilai Angka Kredit (PAK) LLDIKTI Wilayah VII dan sebagai Sekretaris Asosiasi Biochar Indonesia (ABI).

Selain menghasilkan karya akademik, Widowati aktif menjalankan pengabdian masyarakat di berbagai daerah tentang pemanfaatan biochar untuk pertanian. Beliau juga aktif membina anakanak sekolah minggu, dan berbagai pengabdian masyarakat lainnya. Penghargaan Presiden yang pernah diperoleh Widowati adalah Karya Satya Lencana 20 tahun.

Biochar Mengubah Revolusi Hijau Menjadi Praktik Pertanian Berlanjut

Biochar atau yang dikenal dengan arang organik adalah materi padatan yang dihasilkan dari karbonisasi biomasa. Biochar merupakan bahan pembenah tanah yang sangat prospektif, berpotensi untuk menyerap karbon dalam tanah dan sekaligus meningkatkan kualitas tanah dan air serta pertumbuhan tanaman. Biochar mempunyai afinitas yang tinggi terhadap kation. Afinitas yang tinggi sangat membantu dalam menyelesaikan masalah polusi tanah dan air akibat penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Di samping itu, biochar merupakan senyawa karbon yang relatif stabil, jauh lebih stabil dari senyawa organik yang tidak diarangkan. Kedua kharakteristik ini telah melahirkan gagasan bahwa biochar sangat bermanfaat untuk mengurangi laju degradasi tanah, sehingga kesinambungan produksi pangan dapat dijamin.

Penambahan biochar ke tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah dan dengan demikian meningkatkan hasil panen pada lahan pertanian. Pengaruh amandemen biochar terhadap produktivitas jagung telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman dengan meningkatnya sifat fisik dan biokimia tanah yang dibudidayakan (Asai et al., 2009; Mayor et al., 2010). Hasil penelitian pada tanah lempung berdebu telah menunjukkan bahwa aplikasi biochar pada tanaman jagung musim tanam pertama telah menghasilkan jagung yang relatif sama selama tiga musim tanam meskipun tidak menambahkan pupuk P dan K pada musim kedua dan ketiga (Widowati et al., 2012).

Tanaman menanggapi perubahan biochar tergantung pada sifat kimia dan fisika dari biochar, kondisi iklim, kondisi tanah dan jenis tanaman (Gaskin et al., 2010; Haefele et al., 2011). Lehmann dan Rondon (2006) melaporkan hasil tanaman meningkat dengan meningkatnya aplikasi biochar hingga 140 Mg C/ha (namun tingkat hasil maksimal belum tercapai) pada tanah di daerah tropis lembab. Rondon et al. (2004) menyatakan bahwa pertumbuhan biomassa (Phaseolus vulgaris L.) meningkat dengan aplikasi biochar sampai dengan 60 Mg C ha-1 tetapi menurun dengan nilai yang sama seperti untuk perlakuan kontrol saat aplikasi biochar ditingkatkan menjadi 90 Mg C ha-1 (walaupun hasil kacang masih meningkat). Lehmann dan Rondon (2006) menyimpulkan bahwa tanaman memberikan respon positif hingga biochar dosis 50 Mg C ha-1 . Hasil jagung tertinggi pada biochar sekam padi 30 t ha-1 . Namun dari hasil penelitian Widowati dan Karamina (2015), terjadi pengurangan hasil jagung sebesar 4% (biochar sekam padi) dan 9% (tempurung kelapa muda) jika dosis biochar ditingkatkan dari 30 t ha-1 menjadi 45 t ha-1 pada tanah lempung berliat. Asai et al. (2009) melaporkan penurunan hasil padi gogo (Oryza sativa L.) ketika menerapkan amandemen biochar tanpa pemupukan N pada tanah yang kekurangan N. Namun pada Ultisol terdegradasi, hasil jagung kumulatif meningkat setelah aplikasi biochar dari 2 tahun (Kimetu et al., 2008). Namun, Mayor et al. (2010) menunjukkan tidak ada perubahan dari produksi jagung pada tahun pertama tetapi peningkatan yang signifikan dalam 3 tahun berikutnya dari biochar kayu sebanyak 20 t ha-1 di Oxisol. Produksi jagung mengalami peningkatan 12% – 18% dengan menambah pupuk N dan 7% -16% tanpa pupuk N dengan amandemen biochar 20 -40 t ha-1 . Peningkatan produksi jagung di tanah dengan perlakuan biochar dapat dikaitkan dengan ketersediaan hara dan perbaikan sifat fisik tanah yang ditunjukkan dengan penurunan berat volume tanah.

Peningkatan efisiensi penggunaan N dan produktivitas padi di tanah sawah yang ditambah biochar. Efisiensi penggunaan N dan agronomi juga meningkat secara signifikan pada tanah berkapur yang miskin karbon organik tanah dengan amandemen biochar. Tingginya kadar karbon organik tanah karena amendemen biochar dapat meningkatkan efisiensi N dan meningkatkan produktivitas tanaman. Banyak penelitian telah membuktikan penggunaan biochar dapat memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman (Lehman et al., 2003). Biomassa jagung meningkat sebesar 64% (tanpa NPK) dan 146% (dengan NPK) setelah amandemen biochar pada tanah Ultisol. Chan et al. (2008) dan Tagoe et al. (2008) menggunakan biochar berbahan baku kotoran ayam untuk memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman. Penambahan unsur hara dengan menggunakan pupuk anorganik atau organik biasanya penting untuk produktivitas tinggi dan meningkatkan respon positif dari biochar. Hasil penelitian Widowati (2010) menunjukkan produksi biomassa tanaman jagung tidak berbeda, baik dengan NPK maupun tanpa NPK. Hasil ini konsisten dengan yang dilaporkan oleh Tagoe et al., (2008), aplikasi biochar pupuk kandang ayam (dengan pirolisis pada suhu 450 oC selama 1 jam) dan sampah organik kota (suhu 500 oC selama 2 jam) dengan atau tanpa pupuk KCl dapat meningkatkan pertumbuhan, nodulasi,kadar N dan P pada kacang-kacangan (kedelai dan kacang tunggak). Hal ini menunjukkan biochar sebagaimana pupuk organik yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara karena biochar masih mengandung unsur hara.

Aplikasi biochar bagas tebu dengan kandungan abu 65%, karbon 35%, dan pH 9 sebanyak 50 g/kg dapat meningkatkan pertumbuhan biomassa (40 hari) hingga lima kali lipat dan pada tanah yang kurang subur (bekas pekerjaan konstruksi) dan meningkat delapan kali lipat. Chan et al., (2008) mencatat kenaikan hasil lobak (Raphanus sativus) secara linier dengan penambahan biochar hingga 50 ton/ha dan pupuk N. Yamato et al., (2006) menunjukkan bahwa hasil jagung dan kacang tanah secara signifikan lebih tinggi setelah aplikasi arang kulit dan pupuk (Char-NPK) dibandingkan dengan hanya pupuk (NPK). Khususnya jagung, hasil meningkat dua kali lipat. Peningkatan efisiensi pemupukan sebagai akibat penggunaan biochar juga telah banyak dilaporkan. Peningkatan efisiensi pemupukan terjadi karena KTK yang tinggi pada biochar sehingga mampu menjerap hara, dan selanjutnya memperkecil kehilangan hara karena pencucian. Selain itu biochar mempunyai afinitas yang tinggi terhadap kation, sehingga mampu menahan hilangnya kation dari tanah akibat pencucian hara. Hasil penelitian Yamato et al. (2006) menunjukkan bahwa penggunaan biochar dari kayu accasia dapat meningkatkan hasil tanaman jagung, kacang tunggak dan kacang tanah. Penggunaan biochar dari bahan limbah hasil pertanian telah terbukti, di samping meningkatkan hasil tanaman wortel, juga meningkatkan kandungan N (Chan et al., 2007). Residu biochar secara mandiri maupun dikombinasi dengan pupuk K berbagai dosis dapat meningkatkan hasil jagung pada musim tanam kedua. Residu biochar meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, K+ , Ca++, Na+ di dalam tanah setelah musim tanam jagung kedua (Widowati et al., 2017). (HUMAS)

Leave a Reply

Arsip Berita