FIRSTA BAGUS, DOKTOR PERTAMA FIP UNITRI

MALANG – Untuk kali pertama, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang mendapatkan doktor baru di bidang Pendidikan Luar Sekolah. Senin (26/7), Firsta Bagus Sugiharto., S.Pd., M. Pd berhasil lulus dalam ujian disertasi S3-nya dari Universitas Negeri Malang. Firsta Bagus Sugiharto, S. Pd., M. Pd lulus dari ujian disertasi Program Doktor Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dengan dipimpin oleh Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M. Pd dan dipromotori oleh Prof. Dr. Supriyono, M.Pd. Sedangkan Co-Promotor ujian yakni  Prof. Dr. Ach. Rasyad, M.Pd, Dr. H. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H. Selain itu, turut hadir Dr. M. Ishaq, M.Pd (Ketua Program Studi/ Penguji Bidang Studi),  Dr. Zulkarnain, M.Pd, M.Si (Penguji Bidang Pendidikan), dan  Prof. Dr. Sugiyanto, M.S (Penguji Tamu).

Keberhasilan Firsta Bagus Sugiharto, S. Pd., M. Pd menyelesaikan studinya dengan IPK 3,9 ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Topik disertasi yang diangkat adalah ‘Pewarisan Kearifan Lokal Panca Satya Masyarakat Tengger berdasarkan Paradigma Informal Learning (Studi Grounded Theory pada Masyarakat Tengger Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang)’. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah membangun teori pewarisan kearifan lokal melalui kegiatan pembelajaran informal berdasarkan fenomena pewarisan panca satya yang dilakukan oleh masyarakat Tengger dan ditopang oleh komponen pembelajaran yang secara alamiah terjadi di lapangan.

“Selama ini kita melihat bahwa pembelajaran informal itu hanya insidental saja. Tapi, dari hasil riset saya, ternyata tidak demikian. Pembelajaran ini bisa di desain dan dilakukan secara sengaja. Penelitian ini berangkat dari sebuah pertanyaan “bagaimaan sebuah kebudayaan atau kearifan lokal bisa tetap lestari dan diwariskan secara turun temurun? Sedangkan kebudayaan atau kearifan lokal beserta nilai-nilai filosofis yang terkandung tidak diajarkan dalam sekolah formal maupun non formal”. Bila ditarik kebelakang, fenomena pewarisan kabudayaan atau kearifan lokal mirip dengan pertanyaan “bagaimana kitab suci Al Qur’an diwariskan secara turun temurun, sedangkan di jaman nabi tidak ada sistem persekolahan (formal maupun non formal)?”.

Lebih lanjut Firsta Bagus menjelaskan pembelajaran informal merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dalam tataran keluarga dan masyarakat, serta berlangsung secara disengaja dan tidak disengaja. Proses pembelajaran secara informal ini dapat berlangsung dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun tak terkecuali Masyarakat Tengger yang mendiami di sekitar wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Berangkat dari fenomena pewarisan kearifan lokal panca satya yang dimiliki Masyarakat Tengger, ditemukan bahwa kearifan lokal panca satya yang selama ini menjadi pedoman hidup masyarakat Tengger telah mampu menjadikan masyarakat masyarakat Tengger sebagai masyarakat komunitas adat yang jauh dari permasalahan sosial. Pewarisan kearifan lokal panca satya masyarakat Tengger di Desa Ngadas yang terjadi secara disengaja telah ikut meluruskan pemahaman bahwa kegiatan belajar informal hanya dapat tejadi secara insidental. Masyarakat Tengger khususnya yang bermukim di Desa Ngadas telah berhasil menjaga keberlangsungan kearifan lokal panca satya yang diwariskan oleh leluhur mereka. Proses regenerasi ini ditransformasikan melalui jalur pembelajaran informal. Proses pewarisan ini terjadi sepanjang hayat dan dimulai semenjak masih usia dini hingga dewasa (lifelong learning), proses pembelajaran informal ini dilakukan dengan keterlibatan secara aktif dan langsung dalam setiap kegiatan baik dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger maupun pada upacara-upacara adat yang dilakukan secara kolektif maupun secara pribadi.

“Konsep pembelajaran informal menjadi kunci dalam proses pewarisan kearifan lokal panca satya masyarakat Tengger Desa Ngadas, mengingat kearifan lokal panca satya tidak ditransformasikan dalam jalur kegiatan pendidikan formal maupun nonformal. Sehingga dapat memberikan arahan bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan tema atau tempat yang sama. Sedangkan kearifan lokal panca satya yang di ugem-i dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Tengger hendaknya tetap dijaga kelestariannya dan sudah sepatutnya untuk diwariskan kepada generasi penerus, karena inilah jati diri sesungguhnya masyarakat Tengger yang rukun, dan sekaligus menjadi benteng adat dari permasalahan sosial yang mungkin dapat muncul dikemudian hari.”

Hasil dari penelitian tersebut berupa konstruksi kurikulum pembelajaran informal. Firsta Bagus melihat, kurikulum ini tidak bersifat rigid tetapi lebih kearah fleksibel (luwes) sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran informal itu sendiri, tetapi ada beberapa komponen yang harus ada dan tidak boleh ditawar sehingga inilah yang membuat penelitian ini memiliki novelty tersendiri.

Dengan gelar baru ini, Dr. Firsta Bagus Sugiharto, S. Pd., M. Pd berharap dapat terus belajar dan membagikan ilmunya pada setiap insan pembelajar. Beliau juga berharap semoga apa yang diperjuangkan dapat memberikan benefit pada jurusan dan fakultas. Sebagai seorang pendidik, Dr. Firsta Bagus Sugiharto, S. Pd., M. Pd juga berharap mahasiswa dapat memaksimalkan potensi yang ia punya, terutama di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sehingga kelak mereka dapat menjadi seorang guru yang betul-betul bisa mengamalkan filosofi digugu dan ditiru.

“Bagi adik-adik mahasiswa belajar yang rajin, tetap setia pada proses, habiskan jatah gagal kalian dimasa muda, dan semoga kesuksesan senantiasa mengiringi perjuangan kalian. Rekan-rekan sejawat dosen yang sedang dan akan menempuh S3, persiapkan diri baik-baik bukan hanya secara ilmu dan materi namun juga secara mental, karena sejatinya sekolah doktoral adalah perjalanan religius yang bertujuan guna mendapatkan wahyu dan lakuning tapa brata dikawah candradimuka, serta dalam perajalannya akan ada banyak halang rintang yang menghadang. Tetap semangat, teruslah berproses karena nantinya saudara-saudaraku sekalian akan berdiri di ujung horizon pengembangan ilmu pengetahuan sesuai bidang keahlian masing-masing.”

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNITRI, Dr. M Rifa’I, SE., MM mengucapkan selamat atas kelulusan beliau dalam ujian disertasi.

“Selamat atas kelulusannya dan menjadi doktor yang pertama di FIP. Semoga dalam waktu dekat akan tambah lagi doktor di FIP dan dapat memperkokoh bidang SDM di FIP.” Tutup beliau (HUMAS)

Leave a Reply

Arsip Berita